psikologi pendidikan

SEJARAH PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Makalah diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

“Psikologi Pendidikan”

Dosen Pembimbing :

Dr. Nu’man, M. Ag

Disusun Oleh:

KHUSNUL URIFAH

NIM. F0.54.09.216

 

 

PROGRAM PASCASARJANA

KONSENTRASI PENDIDIKAN ISLAM

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

SURABAYA

2010

 

ABSTRAK

Psikologi pendidikan adalah sebuah disiplin psikologi (subdisiplin psikologi) yang menyelidiki masalah-masalah psikologis yang terjadi dalam dunia pendidikan. Sejarah perkembangan psikologi ini sudah dimulai sejak zaman yunani kuno, yaitu ketika gejala-gejala psikologis sudah banyak menarik perhatian para sarjana filsafat.

Namun psikologi sebagai ilmu yang berdiri sendiri baru dimulai tahun 1879 ketika Wilhelm Wundt (1832-1920) mendirikan laboratorium psikologi pertama di kota Leipzig, Jerman. Psikologi terlepas dari filsafat pada pertengahan abad ke-19. Hal ini jelas bagi kita dengan adanya berbagai jenis-jenis psikologi yang timbul, salah satunya adalah psikologi pendidikan yang dipelopori oleh Johann Friederich Herbart sehingga beliau terkenal dengan sebutan bapak psikologi pendidikan.

Sejarah khusus yang mengungkapkan secara cermat dan luas tentang psikologi pendidikan, hingga kini sesungguhnya masih perlu dicari. Hal ini terbukti karena kebanyakan karya tulis yang mengungkapkan “riwayat hidup” psikologi pendidikan masih sangat langka. Tapi secara garis besarnya ejarah Psikologi Pendidikan, dapat diklasifikasikan ke  dalam masa-masa sebagai berikut yakni Masa permulaan Psikologi Pendidikan (1880-1900) dan Masa Pertumbuhan Psikologi Pendidikan (1900-sekarang)

 

PENDAHULUAN

Ditinjau secara historis dapat dikemukakan bahwa ilmu yang tertua adalah ilmu filsafat. Ilmu-ilmu yang lain tergantung dalam filsafat, dan filsafat satu-satunya ilmu pada saat itu. Karena itu ilmu-ilmu yang tergabung dalam filsafat akan dipengaruhi oleh sifat-sifat dari filsafat. Demikian pula halnya dengan psikologi.

Lama-kelamaan disadari bahwa filsafat sebagai satu-satunya ilmu kurang dapat memenuhi kebutuhan manusia. Disadari bahwa hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan tidak cukup lagi hanya diterangkan dengan filsafat. Dengan demikian ilmu pengetahuan alam misalnya memisahkan diri dari filsafat, dan berdiri sendiri sebagai ilmu yang mandiri. Hal ini disebabkan karena ilmu pengetahuan alam membutuhkan hal-hal yang bersifat obyektif, yang bersifat positif, dan ini tidak dapat dicapai dengan menggunakan filsafat. Kemudian ilmu-ilmu yang lain juga memisahkan diri dari filsafat termasuk pula psikologi. Psikologi yang mula-mula tergabung dalam filsafat, akhirnya memisahkan diri dan berdiri sendiri sebagai ilmu yang mandiri.

Abad 20 terjadi perubahan besar mengenai konsepsi pendidikan dan pengajaran. Perubahan tersebut membawa perubahan pula dalam cara belajar mengajar di sekolah. Dari cara pengajaran lama, murid harus diajar dengan memberi pengetahuan sebanyak mungkin dalam berbagai mata pelajaran, berangsur-angsurberalih menuju ke arah penyelenggaraan sekolah progresif, sekolah kerja, sekolah pembangunan, dan sekolah yang menggunakan cara belajar siswa aktif.

Akhir-akhir ini orang telah ramai membicarakan pembaharuan pendidikan, guna menjawab setiap permasalahan kehidupan manusia. Berbagai faktor serta aspek penyelenggaraan pendidikan telah digarap oleh para ahli, demi kemajuan pendidikan dan masyarakat. Namun demikian belum semua pihak merasa puas terhadap setiap usaha yang dilakukan itu.

Maka, seiring dengan harapan itu, pendidikan hendaknya berlangsung secara psikologi. Hal itu disebabkan, bahwa pendidikan diselenggarakan untuk anak didik. Jadi dalam pendidikan, perjhatian diperuntukkan bagi terwujudnya aktivitas belajar pada anak didik, demi terwujudnya aktivitas belajar yang efektif. Maka pendidikan hendaknya psikologis. Pendidikan yang psikologis dalam arti bahwa pendidikan itu berorientasi kepada sifat dan hakikat anak didik sebagai manusia yang berkembang.

Bertolak dari harapan di atas, maka pengetahuan psikologis tentang anak didik menjadi hal yang sangat penting dalam pendidikan. Oleh karena itu, pengetahuan tentang psikologi pendidikan harusnya menjadi kebutuhan bagi para pendidik, bilamana mereka memang menginginkan sukses besar dalam tugasnya.

 

PEMBAHASAN

  1. A.    Psikologi Pendidikan

Psikologi berasal dari bahasa Inggris “psychology”. Kata psychology merupakan dua akar kata yang bersumber dari bahasa Greek (Yunani), yaitu psyche yang artinya jiwa, dan logos yang artinya ilmu pengetahuan. Jadi, secara etimologi (menurut arti kata) psikologi artinya ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai macam-macam gejalanya, prosesnya maupun latar belakangnya.[1]

Ada beberapa pendapat para ahli mengenai psikologi, yaitu;

  1. Menurut Edwin G. Boring dan Herbert S. Langfeld yang dikutip dalam bukunya Sarlito Wirawan mengatakan bahwa psikologi adalah studi tentang hakikat manusia.[2]
  2. Menurut Woodworth dan Marquis yang dikutip dalam bukunya Arifin mengatakan bahwa psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari aktivitas individu dari sejak masih dalam kandungan sampai meninggal dunia dalam hubungannya dengan alam sekitar.[3]
  3. Psikologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari semua tingkah laku dan perbuatan individu, dalam mana individu tersebut tidak dapat dilepaskan dari lingkungannya.[4]

Beberapa pengertian di atas, pada dasarnya sama-sama membahas tentang keadaan manusia, baik mengenai tanggapannya terhadap lingkungan, aktivitas-aktivitas, pikirannya, kehendaknya maupun perasaan panca inderanya. Oleh karena itu, perlu dirumuskan definisi yang berkenaan dengan mata kuliah ini, yakni “Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku individu (manusia) dalam interaksi dengan lingkungannya”. Tingkah laku yang dimaksud adalah dalam pengertian yang luas sebagai manifestasi hayati (hidup) yang meliputi motorik, kognitif, konatif, dan afektif.

Tingkah laku motorik adalah tingkah laku dalam bentuk gerakan, seperti berjalan, berlari, duduk dan lain sebagainya. Tingkah laku kognitif adalah tingkah laku dalam bentuk bagaiman individu mengenal alam disekitarnya, seperti pengamatan, berpikir, mengingat, mencipta dan lain sebagainya. Tingkah laku konatif adalah tingkah laku yang berupa dorongan dari dalam individu, misalnya kemauan, motif, kehendak, nafsu dan lain sebagainya. Tingkah laku afektif adalah tingkah laku dalam bentuk perasaan atau emosi, seperti senang, nikmat, gembira, sedih, cinta dan lain sebagainya.[5]

Pendidikan menurut kamus besar bahasa Indonesia ialah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.[6]

Banyak definisi tentang psikologi pendidikan seperti halnya psikologi, tapi menurut hemat penulis definisi yang sesuai dengan tema atau mata kuliah ini seperti halnya Muhibbin Syah[7] menyebutkan bahwa psikologi pendidikan adalah sebuah disiplin psikologi (subdisiplin psikologi) yang menyelidiki masalah-masalah psikologis yang terjadi dalam dunia pendidikan.

  1. B.     Sejarah Perkembangan Psikologi

Sejarah perkembangan psikologi ini sudah dimulai sejak zaman yunani kuno, yaitu ketika gejala-gejala psikologis sudah banyak menarik perhatian para sarjana filsafat. Pertanyaan klasik yang sering menggoda manusia untuk mencari dan menjawabnya adalah pertanyaan apakah jiwa itu, dari manakah asalnya, apa tujuannya, bagaimana hubungan jiwa dan badan, dan sebagainya.

Jiwa manusia sejak zaman yunani telah menjadi topik pembahasan para filosof, namun psikologi sebagai ilmu yang berdiri sendiri baru dimulai tahun 1879 ketika Wilhelm Wundt (1832-1920)[8]mendirikan laboratorium psikologi pertama di kota Leipzig, Jerman

Wundt sebenarnya bukan seorang ahli dalam bidang psikologi, akn tetapi beliau mempunyai pandangan bahwa fisiologi dapat dipandang sebagai ilmu pembantu dari psikologi, dan psikologi harus berdiri sendiri sebagai suatu ilmu pengetahuan yang tidak tergabung atau tergantung pada ilmu-ilmu yang lain. Di dalam laboratoriumnya, Wundt mengadakan eksperimen-eksperimen dalam rangka penyelidikan-penyelidikannya, sehingga beliau dipandang sebagai bapak psikologi eksperimental. Tetapi itu tidak berarti bahwa baru pada Wilhelm Wundt dimulai pada eksperimen-eksperimen, sebab telah ada ahli-ahli lain yang merintisnya antara lain; Fechner dan Helmholtz. Bahkan wundt sendiri juga telah menjadi asisten Helmholtz. Namun demikian baru pada wundt penyelidikan dilakukan secara laboratorium eksperimental yang lebih intensif dan sistematis. Dengan perkembangan ini akan berubahlah psikologi yang pada mulanya bersifat filosofis menjadi psikologi yang bersifat empiris. Karena laboratoriumnya ini pula Wilhelm Wundt disebut sebagai pendiripsikologi, yang berdiri sendiri.

Secara garis besarnya sejarah psikologi dapat dibagi dalam dua tahap utama, yaitu masa sebelum dan sesudah menjadi ilmu yang berdiri sendiri.[9]

Sebelum tahun 1879, jiwa dipelajari oleh  para ahli filsafat dan para ahli ilmu Fasal (Phisiologi), sehingga psikologi dianggap sebagai bagian dari kedua ilmu tersebut. Filsafat sebagai induk ilmu pengetahuan adalah ilmu yang mencari hakikat sesuatu dengan menciptakan pertanyaan dan jawaban secara terus-menerus sehingga mencapai pengertian yang hakiki  tentang sesuatu. Pada waktu itu belum ada pembuktian-pembuktian empiris, melainkan beberapa  teori dikemukakan berdasarkan argumentasi logika belaka. Psikologi benar-benar  masih merupakan bagian dari filsafat dalam arti semurni-murninya.

Pada abad pertengahan, psikologi masih merupakan bagian dari filsafat sehingga obyeknya tetap hakikat jiwa dan metodenya masih menggunakan argumentasi logika.Disamping para ahli filsafat menggunakan logika, para ahli ilmu fasal juga mulai menyelidiki gejala kejiwaan melalui eksperimen-eksperimen. Walaupun mereka menggunakan metode ilmiah (empiris), namun yang mereka selidiki terutama tentang urat syaraf  pengindraan (sensoris), syaraf motoris (penggerak), pusat sensoris dan motoris di otak, serta hukum-hukum yang mengatur bekerjanya syaraf-syaraf tersebut. Dengan demikian, gejala kejiwaan yang mereka selidiki hanya merupakan bagian dari obyek ilmu fasal dengan metode yang lazim digunakannya.

Masa sesudah psikologi menjadi ilmu yang berdiri sendiri merupakan masa di mana gejala kejiwaan dipelajari secara tersendiri dengan metode ilmiah, terlepas dari filsafat dan ilmu faal. Gejala kejiwaan dipelajari secara lebih sistematis dan objektif. Selain metode eksperimen digunakan pula metode instropeksi oleh W.Wundt. gelar kesarjanaan W.Wundt adalah bidang kedokteran dan hukum. Ia dikenal sebagai sosiolog dan filosof dan orang pertama yang mengaku dirinya sebagai psikolog. Ia dianggap sebagai bapak psikologi. Sejak itu psikologi berkembang pesat dengan bertambahnya sarjana psikologi, menyusun teori-teori psikologi dan keragaman pemikiran-pemikiran baru. Psikologi mulai bercabang ke dalam berbagai aliran.[10]

Secara singkat psikologi dapat digambarkan sebagai berikut;

Masalah jiwa manusia memang penuh keunikan, sehingga mengundang banyak ahli untuk menyelidikinya. Meskipun demikian, tetap saja penyelidikan-penyelidikan sistematis yang dilakukan hingga kini masih belum mampu menjawab pertanyaan tersebut diatas. Karena itu, banyak ahli yang mengatakan bahwa jiwa itu adalah suatu misteri, bersifat rahasia (abstak). Namun, hal itu tidak menutup kemungkinan bagi usaha perenungan dan penelitian untuk sedikit demi sedikit membuka rahasia jiwa manusia.[11]

Sebelum menjadi disiplin ilmu yang otonom, psikologi memiliki akar yang kuat dalam ilmu kedokteran dan filsafat yang hingga sekarang masih tampak pengaruhnya. dalam ilmu kedokteran, psikologi berperan menjelaskan apa-apa yang terpikir dan terasa oleh organ-organ biologis (jasmaniah). Sedang dalam filsafat, psikologi berperan dalam memecahkan masalah-masalah rumit yang berkaitan dengan akal, kehendak, dan pengetahuan.[12]

  1. C.    Sejarah Psikologi Pendidikan

Psikologi adalah suatu pengetahuan rohaniah yang masih muda dibanding dengan ilmu-ilmu pengetahuan lainnya, yang baru saja berdiri sendiri, terlepas dari filsafat pada pertengahan abad ke-19. Psikologi mempunyai kedudukan penting dalam masyarakat dan dapat menarik perhatian para ahli maupun masyarakat umumnya, maka dalam waktu perkembangannya yang singkat, telah mencapai kemajuan yang pesat. Hal ini jelas bagi kita dengan adanya berbagai jenis-jenis psikologi yang timbul, antara lain; psikologi umum, psikologi anak, psikologi kedokteran, psikologi pendidikan dan sebagainya. Oleh karena masih muda, maka belum ada persesuaian pendapat antara para ahli, sehingga timbul berjenis-jenis aliran di dalam psikologi.

Sejarah khusus yang mengungkapkan secara cermat dan luas tentang psikologi pendidikan, hingga kini sesungguhnya masih perlu dicari. Hal ini terbukti karena kebanyakan karya tulis yang mengungkapkan “riwayat hidup” psikologi pendidikan masih sangat langka. Karya tulis yang membahas riwayat psikologi yang ada sekarang pada umumnya tentang pelbagai psikologi yang dicampur aduk menjadi satu, sehinggga menyulitkan identifikasi terhadap jenis psikologi tertentu yang ingin kita ketahui secara spesifik.

Uraian kesejarahan yang khusus berkaitan dengan psikologi pendidikan konon pernah dilakukan secara alakadarnya oleh beberapa orang ahli seperti Boring & Murphy pada tahun 1929 dan Burt 1957, tetapi terbatas untuk psikologi pendidikan yang berkembang di wilayah Inggris. Sudah tentu riwayat psikologi pendidikan yang mereka tulis itu tak dapat kita jadikan acuan bukan hanya karena keterbatasan wilayah pengembangannya saja, melainkan juga karena telah daluarsanya karya-karya tulis tersebut.

Kenyataan yang tak dapat dimungkiri bahwa penggunaan psikologi dalam dunia pendidikan sudah berlangsung sejak zaman dahulu meskipun istilah psikologi pendidikan sendiri pada masa awal pemanfaatannya belum dikenal orang. Namun, seiring dengan perkembangan sains dan teknologi, akhirnya lahir dan berkembanglah secara resmi sebuah cabang khusus psikologi yang disebut psikologi pendidikan itu. Menurut David dalam bukunya Muhibbin Syah menyebutkan bahwa pada umumnya para ahli memandang Johann Friederich Herbart adalah bapak psikologi pendidikan yang konon menurut sebagian ahli masih merupakan disiplin sempalan psikologi.[13]

Herbart adalah seorang filosof dan pengarang kenamaan yang lahir di Oldenburg,Jerman, pada tanggal 4 mei 1776. Pada usia 29 tahun ia menjadi dosen filsafat di Gottingen dan mencapai puncak kariernya pada tahun 1809 ketika dia diangkat menjadi ketua Jurusan Filsafat di Konosberg sampai tahun 1833. Ia meninggal di Gottingen pada tanggal 14 Agustus 1841.

Nama Hebart kemudian di abadiakan sebagai nama sebuah aliran psikologi yang disebut Herbartianisme pada tahun 1821-an. Konsep utama pemikiran Herbartianisme ialah appercertive mass, sebuah istilah yang khusus diperuntukkan bagi pengetahuan yang telah dimiliki individu. Dalam pandangan Hebart, proses belajar atau memahami sesuatu bergantung pada pengenalan individu terhadap hubungan-hubungan antara ide-ide baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki. kondep ini sampai sekarang masih digunakan secara luas dalam dunia pengajaran, yakni yang kita kenal dengan istilah apersepsi sebagai salah satu tahapan dalam kegiatan mengajar-belajar.

Aliran pemikiran Herbartianisme, menurut Heber adalah pendahulu pemikiran psikoanalisis Freud dan berpengaruh besar terhadap pemikiran psikologi eksperimental Wundt. Ia juga dianggap sebagai pencetus gagasan-gagasan pendidikan gaya baru yang pengaruhnya masih terasa hingga sekarang.[14]

Psikologi mamang sangat penting, terutama dalam bidang pendidikan dan pengajaran., orang tua dan pendidik, pada umumnya menghadapi anak-anak yang memiliki sifat-sifatpsikis yang berbeda-beda,baik dalam pikiran, kemauian , perasaan, latar belakang keluarga, struktur jasmani, psikostruktur dan sebagainya. Oleh karena itu pemikiran pendidikan perlu dan penting adanya psikologi pendidikan.

Adanya kemajuan dalam masyarakat, berarti juga bertambahnya kebutuhan baru. Dalam mana, bahwa setiap kebutuhan baru yang timbul, senantiasa diiringi dengan munculnya pengetahuan baru.juga, setiap lapangan hidup, dimana didiamioleh manusia tertentu, senantiasa memperlihatkan gejala-gejala jiwa yang berbeda. Jadi tegasnya, bahwa dalam situasi tertentu, baik dalam lapangan keagamaan, kebudayaan, maupun dalam lapangan industri, semuanya pasti memerlukan pengetahuan psikologi tertentu. Memang psikologi yang dalam berbagai macam teorinya telah memberikan cara-cara tentang bagaimana yang lebih tepat dalam pemecahan permasalahan kemanusiaan yang timbul dalam kehidupan. Disinilah terasa, betapa pentingnya psikologi terapan, sehingga timbul psikologin pendidikan disamping psikologi teoritis.[15]

Selanjutnya, psikologi pendidikan lebih pesat berkembang di Amerika Serikat, meskipun tanah kelahirannya sendiri di Eropa. Kemudian, dari negara adidaya tersebut psikologi pendidikan menyebar ke seluruh benua hingga sampai ke Indonesia. Meskipun perkembangan psikologi pendidikan di Eropa dianggap tidak seberapa, kenyataannya psikologi tersebut tidak lenyap atau tergeser oleh perkembangan psikologi pengajaran. Salah satu bukti masih dipakai dan dikembangkannya psikologi tersebut di Eropa, khususnya di Inggris adalah masih tetap diterbitkannya sebuah jurnal internasional yang bernama British Journal Of Educational Psychology.

Sekarang, semakin dewasa usia psikologi pendidikan, semakin banyak pakar psikologi dan pendidikan yang berminat mengembangkannya. Hal ini terbukti dengan semakin banyaknya fakultas psikologi dan fakultas pendidikan di universitas-universitas terkenal di dunia yang membuka jurusan atau spesialisasi keahlian psikologi pendidikan dengan fasilitas belajar yang lengkap dan modern. Sayang, di Negara kita jurusan psikologi pandidikan – yang biasanya digabung dengan bimbingan dan penyuluhan (BP) itu sudah amat jarang diselenggarakan pada fakultas keguruan baik negeri maupun swasta.

Kenyataan lain yang menunjukkan kepesatan perkembangan psikologi pendidikan adalah semakin banyaknya ragam cabang psikologi dan aliran pemikiran psikologis yang turut berkiprah dalam riset-riset psikologis pendidikan. Cabang dan aliran psikologi yang datang silih berganti menanamkan pengaruhnya terhadap psikologi pendidikan, diantaranya yang paling menonjol adalah:

  1. Aliran humanism dengan tokoh-tokoh utama J.J Rousseau, Abraham Maslaw, C Rogers;
  2. Aliran behaviorisme dengan tokoh utama J.B. Watson, E.L. Thorndike, dan B.F. Skinner;
  3. Aliran psikologi kognitif dengan tokoh-tokoh utama J. Piaget, J. Bruner, dan Ausbel.

Adapun sejarah Psikologi Pendidikan, pada garis besarnya seperti halnya yang terdapat dalam bukunya Mahfudh Shalahuddin[16] dapat diklasifikasikan ke  dalam masa-masa sebagai berikut;

  1. Masa permulaan Psikologi Pendidikan (1880-1900)

Masa ini ditetapkan sebagai masa permulaan Psikologi Pendidikan. Pada masa ini mengemukakan penemuan eksperimen yang pertama tentang aliran Asosiasi.

Beberapa tokoh pada masa ini adalah;

  1. Sir Francis Galton

Pada tahun 1869 ia telah mengemukakan hasil penelitiannya tentang “Genius turun temurun” yang menunjukkan bahwa manusia istimewa di Inggris cenderung menunjukkan kepada; “sebagai keluarga yang tersendiri”. Galton juga menekankan, tentang pentingnya perbedaan yang turun-temurun sehingga menimbulkan perbedaan individual.

  1. G. Stanley Hall

Meskipun pengaruh Hall, secara langsung sangat dirasakan dalam ilmu jiwa anak, tetapi sudah sepatutnua jika ia disebut-sebut dalam membahas tentang sejarah psikologi pendidikan. Sebab, konsepsinya mendasarkan pada teori evolusi biologis dan rekapitulasi, artinya bahwa akal manusia terlihat tumbuh melalui serangkaian tingkatan. Adapun kegiatan Hall yang tampak menonjol adalah antara tahun 1890-1915.

  1. William James

Boring, menyebut William James sebagai “Self start”. Sebab ia berusaha sendiri, berkembang sendiri, dengan tanpa banyak bimbingan. Bukunya yang berjudul “Principles of Psycology” terbit pada tahun 1890, adalah sebuah buku yang sangat besar pengaruhnya terhadap psikologi sebagai suatu ilmu pengetahuan. Sedangkan sumbangan James terhadap Psikologi Pendidikan, adalah melalui kecakapan sebagai pembicaraan di depan umum dan populariser (orang yang menjadi terkenal diantara rakyat).  Maka, bukunya yang berjudul “Talks to Teacher” yang terbit pada tahun 1899, adalh sebuah buku yang sangat cemerlang.

  1. James Mc. Keen Cattell

Pekerjaan yang mula-mula diselesaikan oleh James Mc. Keen Cattel adalah; adanya perbedaan individu sewaktu reaksi dilaboratorium Wundt. Masalh ini, adalah sangat berguna dalam psikologi pendidikan.

  1. Alfred Binet

Adalh, juga orang yang banyak sekali jasa-jasanya dalam bidang psikologi pendidikan. Ia telah mengembangkan penggunaan tes intelegensi secara individual. Juga pada tahun 1899, Binet dan laboratoriumnya menggabungkan diri dengan sarbone, sampai ia meninggal duania (1911). Adapun hasil kerjanya yang utama adalah tentang problem-problem psikologi abnormal. Akhirnya, berkat kerjasama dan bantuan Theophile Simon, maka dikembangkan skala Binet yang pertama, dan akhirnya mereka menyusun tes untuk anak normal dan abnormal.

  1. John Dewey

Walaupun telah didahului oleh William James, John Dewey juga membantu dalam menemukan fungsionalisme sebagai sekolah psikologi, pada akhir tahun 1890, bersama-sama dengan taman-temannya, seperti; Tufts, Mead, Moore dan Angel, ia mengembangkan psikologi fungsionalis di Sekolah Chicago. Sedang dalam psikologi pendidikan, ia dikenal sebagai bapak Pendidikan Progresif, yang menekankan pada interes personal (pribadi), faktor-faktor sosial dan kegiatan-kegiatan yang bersifat praktis.

  1. Masa Pertumbuhan Psikologi Pendidikan (1900-sekarang)

Apabila permulaan munculnya ilmu jiwa mengambil waktu tahun 1900, maka sesudah tahun 1900, adalah merupakan periode pertumbuhan.

Tokoh-tokoh Psikologi Pendidikan pada masa ini adalah;

  1. Edward L. Thorndike

Adalah orang pertama yang dapat disebut sebagai ahli dalam psikologi pendidikan, dalam arti modern. Hampir seluruh hidupnya dicurahkan sebagai guru di Teacher College, Universitas Columbia, kurang lebih 40 tahun. Ia senantiasa berkecimpung pada problem-problem yang dihadapi psikologi pendidikan. Ia berpendapat, bahwa prosedur pendidikan dalam semua jenis, hendaknya berdasar pada hasil riset, dan bukan pada pendapat umum. Ini berarti, bahwa perhatian mengenai belajar, adalah besar sekali. Akhirnya Thorndike dan Woodworth mengemukakan kertas kerjanya yang sangat populer, yakni “Transfer of training”.

  1. Charles H. Judd

Adalah seorang pionir psikologi pendidikan, yang telah memperoleh latihan dari Wundt di Leipziq dan dapat meraih gelarnya pada tahun 1896. Bukuny yang berjudul “Genetic Psycology for Teacher” adalh membahas tentang, psikologi membaca, psikologi menulis, psikologi berhitung dan memperkuat doktrin tentang perkembangan biologis dan psikologis.

  1. H. Goddard, F. Kuhlmann dan L.M. Terman

Pada tahun 1908, Goddard menterjemahkan skala Binet ke dalam bahasa Inggris dan kemudian dikenakan pada anak-anak. Juga pada tahun 1912 Kuhlmann mengataka revisi atas tes Binet di Amerika Serikat, dan pada tahun 1916 Terman memperluas dan mengubah skala Binet, menerima yang baik dan menghilangkan beberapa kelemahannya, sehingga tes itu, sesuai untuk digunakan di Amerika Serikat. Maka, pada saat masa inkubasiini dikembangkan apa yang disebut “Tes Achievement”, yakni tes prestasi, dalam suatu rangkaian tes standar, dan biasanya bersifat pendidikan.

KESIMPULAN

Psikologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku individu (manusia) dalam interaksi dengan lingkungannya. Sejarah perkembangan psikologi ini sudah dimulai sejak zaman yunani kuno, yaitu ketika gejala-gejala psikologis sudah banyak menarik perhatian para sarjana filsafat.

Psikologi sebagai ilmu yang berdiri sendiri baru dimulai tahun 1879 ketika Wilhelm Wundt (1983-1920) mendirikan laboratorium psikologi pertama di kota Leipzig, Jerman. Kemudian psikologi tersebut berkembang salah satunya adalah psikologi pendidikan yang dipelopori oleh Johann Friederich Herbart sehingga beliau terkenal dengan sebutan bapak psikologi pendidikan.

Sejarah Psikologi Pendidikan, pada garis besarnya seperti halnya yang terdapat dalam bukunya Mahfudh Shalahuddin dapat diklasifikasikan ke  dalam masa-masa sebagai berikut;

  1. Masa permulaan Psikologi Pendidikan (1880-1900)
  2. Masa Pertumbuhan Psikologi Pendidikan (1900-sekarang)

PENUTUP

Penulis menyadari bahwa Makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, Penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca. Dan sebelum penulis menutup Makalah ini, Penulis ingin memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada yang kurang berkenan dalam penyusunan Makalah ini.

Akhirnya, Segala puji bagi Allah yang telah mencurahkan rahmat-Nya dan menerangkan pikiran-pikiran sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah ini. Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai rasa terima kasih penulis atas segala petunjuk-Nya. Sebagai penutup Penulis sungguh sangat berharap semoga Makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Amin.

DAFTAR PUSTAKA

AhmadiAbu, Psikologi Umum,  Surabaya; PT. Bina Ilmu, 1992

Ahyadi Abdul Aziz, Psikologi Agama, Bandung; Sinar Baru, 1991

Arifin, Pengantar Psikologi Umum, Surabaya, Sinar Wijaya, 1986

Baharuddin, Psikologi Pendidikan Refleksi Teoretis teerhadap Fenomena, Jogyakarta; Ar-Ruzz Media, 2010

FauziAhmad, Psikologi Umum, Bandung; Pustaka Setia, 1999

KartonoKartini, Psikologi Umum, Bandung; Mandar Maju, 1996

Muhammad Surya, Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran, Bandung; Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan IKIP Bandung,  1997

Shalahuddin Mahfudh,Pengantar Psikologi Pendidikan, Surabaya; PT. Bina Ilmu, 1990

SyahMuhibbin, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Bandung; PT. Remaja Rsdakarya, 2010

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa,Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta; Balai Pustaka, 2001

Tohirin, Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, Jakarta; PT. Raja Grafindo Persada, 2005

Wirawan Sarlito, Pengantar Umum Psikologi, Jakarta; PT. Bulan Bintang, 1983

 


[1]Ahmad Fauzi, Psikologi Umum, (Bandung; Pustaka Setia, 1999), 9

[2]Sarlito Wirawan, Pengantar Umum Psikologi, (Jakarta; PT. Bulan Bintang, 1983), 4

[3]Arifin, Pengantar Psikologi Umum, (Surabaya, Sinar Wijaya, 1986), 8

[4]Kartini Kartono, Psikologi Umum, (Bandung; Mandar Maju, 1996), 2

[5]Muhammad Surya, Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran, (Bandung; Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan IKIP Bandung,  1997), 1-2

[6]Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa,Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta; Balai Pustaka, 2001), 232

[7]Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung; PT. Remaja Rsdakarya, 2010), 15

[8]Abu Ahmadi, Psikologi Umum, ( Surabaya; PT. Bina Ilmu, 1992), 8

[9]Ahmad Fauzi, Psikologi Umum,……………………………..14

[10]Abdul Aziz Ahyadi, Psikologi Agama, (Bandung; Sinar Baru, 1991), 19

[11]Baharuddin, Psikologi Pendidikan Refleksi Teoretis teerhadap Fenomena, (Jogyakarta; Ar-Ruzz Media, 2010), 47

[12]Tohirin, Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, ( Jakarta; PT. Raja Grafindo Persada, 2005), 4

[13]Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, …………………………………..22

[14]Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, …………………………23

[15]Mahfudh Shalahudin, Pengantar Psikologi Pendidikan, (Surabaya; PT. Bina Ilmu, 1990),19

[16]Ibid., 19

Tentang khusnulurifah

lulusan S2 IAIN Sunan Ampel Surabaya,jurusan pendidikan Agama Islam,saya berprofesi sebagai guru agama di salah satu sekolah menengah pertama di sidoarjo,
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s